ITS merupakan kampus yang sudah mulai peduli terhadap konservasi dan Global Warming. Untuk menunjukkan kepedulian tersebut, pihak Eco-campus berkali-kali melakukan penanaman pohon dan juga pelepasan burung. Adanya upaya pelestarian dan penghijauan ini diharapkan dapat menjadikan kesadaran masyarakat semakin meningkat untuk melestarikan bumi ini.
Selasa, 27 Maret 2012 sekitar pukul 10.00 di daerah sekitar asrama tertangkap basah seorang penangkap burung di kawasan kampus. Trik yang dilakukan adalah membawa pancingan burung. Dimana cara ini paling sering dilakukan dibandingkan dengan perburuan menggunakan senjata. Cara pancingan burung ini dilakukan dengan memanfaatkan salah satu jenis burung untuk menarik jenis burung dengan kelamin yang berbeda. Sehingga karena berbeda kelamin, burung akan menjadi tertarik dan akan mengitari si burung pemancing. Terlihat jenis burung yang kemarin sempat diidentifikasi adalah jenis kacamata (Zosteropidae).
Waktu itu, saya juga mengingatkan kepada penangkap burung tersebut bersama anaknya,
“Pak, nangkap burung to?” (saya sambil memotret burung pemancing dalam sangkar yang kasihan, dan foto anak bapaknya yang dibedaki sampai lebrong2)
anaknya bilang, “pak, manuk’e do photo, pak. manuk’e di photo.”
“iya”
“ Maaf pak, disini gak boleh nangkap burung, burung-burung disini dilindungi soalnya.”
“o, iya mbak.” (langsung bapaknya beres-beres burung pemancing dan segera meninggalkan hutan asrama)
Kemudian langkah saya tergerak untuk menuju ke dua anak lelaki yang mungkin masih duduk di bangku SD,
“lapo, le…?? nggolek manuk ta.?”
“iyo.”
“gawe opo?”
“yo tak kembangne, tak biakno.”
“he, nek golek manuk ojo nang kene, manuk-manuk nang kene dilindungi. Iki gawe kelestarian alam.” (kedua anak itu tetap saja ngethek gak pergi-pergi)
“ Lapo sih, aku nggoleki manuk kocomoto ku ki lho ucul.” (Ucul kepiye, lha wong jelas-jelas awakmu gak nggowo opo2 ngono lho. O…o… Kamu Ketahuan.!!!)
“Yo, terserah wes, aku cuma ngingetin kok. Nek awakmu ijek golek manuk nang kene, tak kandakno satpam.” (sambil saya menunggu mereka menyingkir. Saya tetap menunggu Sepah kecil (Pericrocotus cinnamomeus) untuk difoto.
Setelah para penangkap burung meninggalkan lokasi dan menunggu di jalan, saya pun sambil bersepeda menuju ke pos SKK dekat Asrama. Kejadian tersebut saya laporkan ke SKK, sehingga Bapak-bapak SKK datang mendatangi mereka dan mengingatkan untuk segera pergi. Saya juga mengingatkan kepada SKK untuk lebih waspada terhadap para pemburu dan penangkap burung di kawasan Kampus ITS Surabaya. Karena kondisi terbuka, sehingga memudahkan siapa saja masuk ke dalam kawasan kampus. Ucapan terakhir dari saya, “Terima kasih, Bapak SKK. Semoga kontribusi terus diberikan demi kelestarian burung dan habitatnya. Waspadalah!”(Cheeta)


