
JAKARTA, KOMPAS.com – Kawasan pantai seluas 14 hektare di Sulawesi Utara telah disulap menjadi pantai pribadi. Bukan lahan milik orang kaya lho, melainkan menjadi kawasan konservasi khusus burung Maleo (Macrocephalon maleo).
Baca Selengkapnya

JAKARTA, KOMPAS.com – Kawasan pantai seluas 14 hektare di Sulawesi Utara telah disulap menjadi pantai pribadi. Bukan lahan milik orang kaya lho, melainkan menjadi kawasan konservasi khusus burung Maleo (Macrocephalon maleo).
Baca Selengkapnya
Sebuah cerita dari purwodadi botanical garden…
kalau saudara datang ke kantor kebun raya purwodadi beberapa hari lalu, mungkin anda akan melihat Sesosok pemangsa gagah yang hanya bisa termenung dalam sangkar sebesar kardus televisi 24 inch, ironis bukan? di satu sisi kebun raya merupakan salah satu lembaga yang concern dalam upaya konservasi flora….namun entah mengapa tidak diimbangi dengan pemeliharaan komponen ekosistem yang lainnya, buktinya….? seekor burung Falconidae yang notabene dilindungi oleh undang-undang terkurung dalam sangkar yang terdapat di sisi gedung utama kebun raya purwodadi, tidak jelas tujuan dari “dipenjarakanya” alap-alap sapi tersebut, saya memang ga tahu dari mana asal Sang RAPTOR tersebut, tapi apakah tidak terbesit sedikitpun pemikiran untuk melepaskan sang Raptor oleh para pengelola kebun raya purwodadi…fyuh….dan akhirnya dengan duka mendalam saya harus memberitakan bahwa telah berpulang kepada Tuhan Yang Maha Kuasa seekor Alap-alap sapi dewasa di pengasingannya di purwodadi, untuk itu mari kita bersama-sam mengheningkan cipta untuk mengenang Sang Pemangsa…..mengheningkan cipta mulai……..(BTZ)
Bangau bluwok (Mycterea cinerea) di Teluk Lamong
Kamis 20 Maret 2008, aku dan mas Pioel mengerjakan Analisa Vegetasi mangrove di kawasan teluk Lamong Surabaya, yang meliputi pulau Galang, muara kali Sememi, Branjangan, Greges, dan kali Anakan. Selain analisa vegetasi mangrove, kami juga melakukan inventarisasi avifauna di kawasan ini.
Berangkat jam 08.00 WIB dari Keputih, sampai lokasi sekitar jam 09.00 WIB. Sekitar setengah jam kemudian kami baru mulai menaiki perahu dari kali Lamong Gresik menuju lokasi pertama, muara kali Sememi. Lokasi ini sulit dijangkau lewat darat sehingga diputuskan lewat jalur air. Sekitar 20 menit menyusuri kali Lamong, akhirnya terlihat pulau Galang yang terletak tepat di muara sungai. Sambil melewatinya, kami melakukan pengamatan dan tercatat jenis-jenis burung yang didominasi famili Ardeidae seperti Egretta garzetta, Butorides striata, Ardea purpurea dan Nycticorax nycticorax. Dengan jarak kurang lebih 1,5 km dari pulau Galang, tampak muara kali Sememi.
Sepanjang pantai menuju Sememi masih terdapat vegetasi mangrove meskipun tidak terlalu tebal, namun setidaknya masih dapat meredam gelombang yang menghantam garis pantai. Kurang lebih 100 meter dari muara kami berdua memicingkan mata, di tajuk Sonneratia sp. terdapat 3 ekor burung yang sedang bertengger. Satu ekor sudah tidak asing lagi (Egretta sp.) sedangkan dua ekor yang lain jarang sekali kami temui, perahu kami dekatkan ke tepian pantai. Setelah jarak kami cukup dekat, baru kami bisa mengamati lebih detail jenis tersebut, field guide (MacKinnon, red.) kami buka dan kami coba mengidentifikasi tenyata jenis tersebut adalah Bangau Bluwok alias Milky stork alias Mycteria cinerea. Setelah kami yakin bahwa memang benar bahwa jenis tersebut adalah Bangau bluwok, kami keluarkan kamera digital yang kami bawa, dan kami dokumentasikan temuan kami tersebut.
Satu hal yang membuat kagum, bahwa jenis ini ternyata masih bisa ditemui di pantai Surabaya di Teluk Lamong dengan kondisi yang sudah memprihatinkan, mengingat jenis ini populasinya terbatas hanya diperkirakan sekitar 5.500 ekor di seluruh dunia dan sebagian besar (5.000 individu) berada di Indonesia, dari jumlah tersebut hanya 400 individu yang terdapat di jawa sedangkan sisanya di kalimantan. Sebaran jenis ini meliputi negara-negara di Asia Tenggara khususnya yang pernah tercatat di Indonesia, Malaysia, Kamboja, Thailand, dan Vietnam (iucnredlist.org).
Teluk Lamong sebenarnya merupakan habitat yang sesuai, burung ini tersebar di Indonesia dan Malaysia pada habitat yang berbatasan dengan mangrove, pada perairan dengan salinitas rendah. Umumnya mencari makan dihamparan lumpur daerah intertidal, rawa air tawar, kolam ikan, dan persawahan
Menurut IUCN, jenis ini dikategorikan dalam status Vulnerable (Vu) yang berarti rentan/ beresiko tinggi mengalami kepunahan. (ekho/pecuk)