7 April 2012
Cuaca cerah, jam 8
Pengamatan burung paling enak pagi hari dan sore hari. Kalau pagi hari kisaran pukul 06.00-07.30 atau sebelum matahari terbit secara penuh. Bila sore hari kisaran pukul 16.00-17.30 atau sebelum maghrib. Pada waktu-waktu tersebut burung lebih banyak terlihat. Pengamatan memang ada baiknya dikisaran waktu tersebut, karena jika lewat sudah sedikit burung yang dapat dilihat. Oleh karena beberapa macam hal, saat ingin pengamatan wonorejo Sabtu, 7 April 2012 mengalami kemunduruan. Janjian jam 6 sudah berada di wonorejo, tetapi baru memulai bergerak jam 7.50.

Pengamatan burung kali ini beranggotakan Mas Piul, Mba Anin, Mba Chaca, Mba Sidratu dan Wim. Kira-kira 50 meteran dari warung Ibu Rum, kami berhenti sejenak melakukan pengamatan di sekitar. Di kejauhan kami melihat dua burung. Diantar kami terjadi perbedaan pendapat mengenai burung jenis apa, karena dipengaruhi oleh jarak yang lumayan jauh dan posisi burung menghadap membelakangi kami maupun terbang dari satu dahan ke dahan lain, maka kami menemui kesulitan mengidentifikasi. Burung tersebut berukuran 3x nya burung gereja, punggung berwarna biru cerah, dada berwarna putih polos, paruh 2x kepala berwarna hitam. Ada yang berpendapat bahwa ini burung cekakak sungai dan burung raja udang. Kedua burung ini secara morfologi memang hampir sama. Setelah ditunggu beberapa saat akhirnya burung tersebut dalam posisi menyamping dan diamati lagi, akhirnya diketahui bahwa burung tersebut adalah burung cekakak sungai (Todirhampus cholis). Rupanya antara kepala dengan badan terpisahkan oleh kalung berwarna putih dan pada ekornya ada garis berwarna biru muda sedangkan ekornya dominan biru tua cerah.
Masih pada posisi yang sama, kami melihat adanya pergerakan cepat di pohon dekat kami. Sekilas terlihat ada sesuatu belang-belang putih lompat dari dahan ke dahan dengan gesit. Kami langsung berbagi posisi untuk mengamati. Perlahan tetapi pasti bisa mengikuti arah pergerakannya dan saat sedang hinggap di dahan dengan sigap diamati. Rupanya ada seekor burung dengan ukuran 2x burung gereja, punggung dan ekor dominan hitam dengan bintil putih. Kembali dibuat binggung jenis apa ini, karena belum mendapatkan secara lengkap morfologi yang dapat menjadi pembeda antara satu jenis dengan jenis lainnya. Tidak lama burungnya kembali berpindah dahan dan tidak terlihat tertutup dedaunan. Kami menanti dengan sabar penuh rasa penasaran untuk mengetahui jenis apa. Kesabaran kami menemui hasil dimana burung tersebut kembali terlihat. Sayang posisinya kurang strategis untuk diamati karena tertutup sebagian daun, kami berhasil melihat bagian kepalanya ada topi merah dan burung tersebut memiliki tunggik merah. Dari ciri tersebut diketahui bahwa burung kaladi ulam (Dendrocopus macei)
Saat ingin melanjutkan perjalanan kami terhenti oleh pergerakan seekor burung yang tiba-tiba terbang dari rerumputan ke dahan pohon. Lagi-lagi dedaunan menjadi penghalang kami untuk dengan bebas menikmati keindahan dan mengidentifikasi burung. Hampir sebagian tubuhnya tertutup daun, tetapi ekornya sangat terlihat jelas bergerak naik turun. Pergerakan ekor seperti ini menjadi ciri khas dari burung kipasan. Beberapa kali diamati dan berpindah posisi, akhirnya dapat didentifikasikan burung tersebut termasuk jenis burung kipasan.
Perjalanan kami lanjutkan diiringi suara burung-burung yang saling bersautan. Lebih banyak jenis burung yang terdengar suaranya. Saya tidak mencantumkan pengindetifikasian dari suara burung, karena saya belum bisa mengelompokkan burung dari suaranya.
Kami berusaha mencari spot dimana banyak terdapat burung dengan ukuran lebih besar dibanding dengan burung yang telah diamati tadi. Penelusuran terus berlanjut, tambak demi tambak terlewati dan tiba-tiba ada burung yang terbang lalu disambut satu burung lagi dari arah berlawanan. Segera kami menarik binokuler dari dalam tas dengan mata tetap mengikuti pergerakan terbang burung tersebut. Ketika sedang diamati dengan bino kedua burung tersebut hinggap di perpohonan dan tertutup daun. Kami mencoba menunggu, tetapi sayang tidak ada pergerakan dan tanda-tanda burung tersebut akan berpindah tempat. Dari pengamatan sekilat tadi kami hanya mendapatkan gambaran dari penampak terbangnya berupa ukuran 1x merpati, badan berwarna kuning dengan di pinggiran sayap terdapat warna hitam, paruh 1x kepala. Kami mengidentifikasi itu adalah burung bambangan kuning (Ixorbhicus cinensis).
Berhubung burungnya tidak muncul, maka kami pun melanjutkan perjalanan. Tidak jauh melangkah, kami melihat ada dua burung berukuran 2x burung gereja seperti sedang bermain di rerumputan. Mereka terbang rendah berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Rupanya kedua burung ini berbeda jenis, tetapi masih dalam satu spesies yaitu bondol. Burung satu berukuran 2x burung gereja, berkepala hitam, dada putih polos, punggung cokelat muda, paruh 1x kepada berwarna hitam merupakan bondol jawa (). Kemudian burung satunya merupakan bondol dengan ciri berkepala putih, paruh 1x kepala berwarna hitam, punggung cokelat muda, dada dominan putih dengan gelombang hitam bernama burung bondol peking (Lonchura punctulata).
Selesai menyepakati bersama burung yang telah ditemukan, kami melihat ada burung gajahan terbang dan mendarat di suatu tambak. Kami mengarahkan tujuan ke arah tambak tempat pendaratan burung gajahan tersebut. Kami berhenti sejenak di pinggiran tambak untuk beristirahat. Istirahat pun kami tetap melakukan pengamatan burung di sekitar kami. Di tambak dekat kami ada burung blekok sawah (Ardeola spesiosa), burung kuntul kecil (Egrette garzeta), burung gagang bayam timur (Himantopus leucocephalus), burung cangak merah (Ardea purpure). Burung cangak merah ini berada cukup jauh sedang bertengker di pohon. Saat beristirahat kami melihat burung kuntul dalam jumlah besar sedang bertengker maupun terbang. Lalu ada juga burung raja udang (Alledo coerulescens).
Istirahat selesai dan kami kembali berjalan menuju tambak dimana burung gajahan mendarat. Setelah sampai di tambak tersebut, kami dibuat senang bukan main karena terdapat banyak burung gajahan. Kami mengambil posisi pengamatan senyaman mungkin dan mulai mengidentifikasi. Secara sekilas hanya terlihat burung gajahan pengala (Numenius phaeopus). Setelah diamati dengan teliti rupanya ada burung gajahan kecil (), burung dara laut kaspia (Sterna caspia), burung dara laut kecil (Sterna albifons), burung biru laut ekor hitam (Limosa limosa), burung blekok sawah (Ardeola spesiosa), burung kuntul kecil (Egretta garzeta), burung kuntul kerbau (Bubulcus ibis).
Sebelum jalan pulang, Mas Piul mencoba membuat gangguan terhadap kawanan burung tersebut dengan suara-suara. Oleh karena suara dari Mas Piul, kawanan burung itu terbang dalam kelompok dan terlihat sangat indah terbang bersamaan secara berurutan (wim).