Surabaya merupakan salah satu kota besar di Indonesia dengan karakter masyarakat yang sangat beragam..begitu pula dengan keragaman spesies Burung yang ada baik yang liar maupun peliharaan. Bagi pecinta burung peliharaan Surabaya merupakan kota yang tepat untuk membeli burung yang disukai, baik yang Legal Ataupun ilegal, para pecinta burung liar pun akan dipuaskan dengan berbagai area pengamatan burung liar yang ada. Inilah ironi yang ada di surabaya, sebagian pihak melakukan konservasi untuk menjaga kelestarian burung-burung di alam dan sebagian pihak yang lain melakukan eksploitasi burung-burung demi kesenangan sesaat. Pernahkan anda bertanya, mengapa hal ini bisa terjadi??? Ya, semua itu terjadi karena kesadaran masyarakat di Surabaya akan pentingnya konservasi masih belum cukup tinggi,..selain itu faktor ekonomi juga satu hal penting yang memunculkan eksploitasi burung-burung. Pemerintah telah menyusun sebuah undang-undang (pp no 7 tahun 1999) untuk memberikan perlindungan bagi burung-burung langka, namun tetap saja masih banyak perdagangan burung langka di Surabaya seperti yang terjadi di Pasar burung Bratang, pasar burung Kupang dan pasar burung lainnya. Kepentingan konservasi selalu saja berbenturan dengan kepentingan ekonomi yang sifatnya antrophosentris,..contoh nyata adalah masih banyak para penangkap burung yang mengandalkan profesi tersebut sebagai sumber mata pencaharian utama, tentu saja hal ini terjadi karena banyaknya permintaan dari masyarakat yang ingin memelihara burung untuk kesenagan diri atau sekedar menjaga gengsi. APA YANG SEHARUSNYA DILAKUKAN?? suatu pertanyaan besar yang selalu terdengar, yah..peranan masyarakat dari berbagai pihak untuk menyelesaikan maslah ini sangat diperlukan, Masyarkat umum sebagai elemen dasar, pemerintah sebagai pemilik kewenangan dan akademisi sebagai tim ahli harus berembug untuk membicarakan langkah2 konkret untuk menyelesaikan masalah ini. Mungkin butuh waktu untuk melakukan hal tersebut, namun cara yang paling mudah adalah memulai dari diri masing-masing sebagi pribadi yang bermoral, yaitu dengan turut menjaga kelestarian burung serta mengkampanyekan betapa pentingnya konservasi alam. Yah semoga semua harapan dan cita-cita akan terwujudnya BUMI YANG LESTARI dapat tercapai.SALAM LESTARI. (beertoez1987_peCUK)
Road to Wonorejo
December 14, 2009Pagi itu (Minggu, 13 Desember 2009) saya melalui Pecuk diundang kedalam acara yang diadakan oleh radio “Suara Surabaya”, Pemkot Surabaya, dan LSM YAPEKA yang bernama “Ayo Menanam Mangrove”. Kami team Pecuk (saya, Cuplis, Iska, Muncil, dan Febri) bersama seorang Pecukers, Burhan, berangkat memenuhi Undangan tersebut. Dalam undangan tersebut kami diharapkan kedatangannya kelokasi pukul 05.30 WIB. Adapun tugas yang kami lakukan adalah sebagai pemandu akan pentingnya konservasi di wilayah Pamurbaya (Pantai Timur Surabaya) khususnya Wonorejo. Kami diharapkan dapat menjelaskan ke peserta akan potensi yang dimiliki oleh Wonorejo.
Berdasarkan informasi ya ng telah kami kumpulkan terlihat jelas bahwa daerah ini benar – benar layak untuk “diperjuangkan”. Dari info yang kami peroleh, di Wonorejo ini terdapat 137 spesies burung (terbanyak se Asia Tenggara) dan 18 macam spesies mangrove major (setara dengan MIC di Bali). Sangat disayangkan memang mengingat potensi yang dimiliki sebegitu besarnya namun belum ada yang menjamin keberlangsungannya sebagai daerah konservasi. Saat ini daerah tersebut sedang akan dijadikan MIC oleh Pemkot Surabaya. Namun saya tetap khawatir dan was was mengingat sebentar lagi akan ada pemilihan Walikota baru, saya takut jika terjadi pergantian kepemimpinan di jajaran Pemkot ini hanya akan tinggal menjadi wacana. Saat ini di Wonorejo sendiri telah berdiri 2 pos pantau mangrove sumbangan dari Pemkot Surabaya dan Kapolwil yang berdiri di muara sungai Wonorejo serta telah berdiri 1 dermaga guna memudahkan akses melihat, mengawasi, dan memelihara mangrove.
Saya memulai perjalanan ini dengan bangun yang biadab (dibangunkan jam 4.30 oleh Febri!!! Sangat pagi sekali!!!). Bangun sepagi itu sungguh pengalaman yang luar biasa bagi saya!! Jam 5.00 saya sudah siap untuk pergi. Saya rencananya akan men jemput Iska dulu, tetapi berhubung dia belum sholat (sepertinya dia juga tersiksa sekali dengan bangun di jam yang gak masuk akal ini), maka saya kemudian membeli bensin terlebih dahulu di pom bensin yang letaknya dekat dengan kampus. Entah gara gara saya belum benar – benar sadar atau emang gara gara jalanan yang licin akibat hujan semalam saya jam 5 pagi sudah tiduran ditengah jalan. Luka yang saya peroleh saya dapatkan di telapak kaki. Lumayan perih lah akibat sobeknya dan dalamnya luka. Si Jupe (motor kebanggaan saya yang telah menemani saya sejak kelas 2 SMA) untung tidak mencaci saya (I love u Jupe…) mengingat sekarang dia jalannya jadi pincang dan miring – miring. Segera setelah menjemput Iska saya kembali ke kosan kemudian menyiram luka saya dengan air bersih, memberi betadine dan menutupnya dengan hansaplast. Hansapalast yang saya dapat dari Iska jenis hansaplast yang berwarna. Ketika saya keluar dan Iska melihatnya ketawalah dia. Menurut dia sekarang kaki saya jadi imut. Kurang ajar sekali… Hehehe…
Serentetan masalah ini lah yang membuat kami ditinggal terlebih dahulu oleh si Febri dan Muncil (saya merasa mereka bakalan menjadi pasangan suami istri kedepannya. Amien ya Allah.). Dijalan ternyata cuplis yang menjemput burhan terlebih dahulu juga belum berangakat jadi kami berangkat bersama. Setiba dilokasi acara segera kami menghampiri mas Wandi yang telah menunggu kedatangan kami disana bersama pasangan Bahagia Pecuk kami (Febri dan Muncil). Kami kemudian sama – sama merefresh ilmu kami akan mangrove dan burung. Acara kemudian dilanjutkan oleh sambutan oleh undangan (acara yang membosankan dan tidak penting). Kemudian masuklah ke acara utamanya. Peserta diarahkan oleh panitia untuk masuk kedalam perahu-perahu yang telah disiapkan oleh panitia. Kami kemudian segera dibagi oleh mas Uut untuk masuk kedalam perahu untuk mendampingi peserta. Sangat disayangkan ternyata kami tidak jadi mengerjakan tugas kami karena bisingnya suara mesin sehingga tidak memungkinkan kami untuk memandu. Akhirnya kami hanya bisa membagi bagikan selebaran yang telah dicetak oleh YAPEKA kepada peserta. Perahu yang kami tumpangi akhirnya berhenti di muara sungai di pinggir pos pantau mangrove. Selama perjalanan naik perahu saya bener – benar terkesima akan luar biasanya pemandangan alam yang disajikan. Subhanallah indahnya… Dalam perjalanan itu saya melihat burung Raja Udang Biru yang bergerombol, dara laut, 8 ekor belibis yang terbang rendah diatas kami, kokokan laut yang menjemur badannya ditepi sungai, sekawanan remetuk laut yang sangat cerewet, blekok sawah dan kuntul kecil yang terbang rendah, 2 ekor tupai yang bermain main di pinggir sungai dan Kipasan belang yang berlompat – lompat di dahan dahan Avicennia. Sepanjang sungai saya merasa termanjakan akan indahnya aktifitas satwa yang merupakan sesuatu yang menghibur di tengah padatnya kota Surabaya.
Setelah sampai peserta segera melanjutkan ke lokasi penanaman. Dari pos pantau peseta menyusuri jalan setapak kurang lebih 10 menit untuk menuju pos lokasi penanaman mangrove. Para peserta segera tampak asyik berbecek becekanan untuk menanam mangrove yang telah disediakan. Setiap keluarga mendapatkan 5 bibit untuk ditanam dan dilabeli. Mangrove yang ditanam jenis Rhizopora. Ketua BAPEKO Surabaya tampak sangat sigap dan mantap dalam menanam nya. Terlihat bahwa beliau terbiasa menanam mangrove. Saat pertengahan acara menanam tiba – tiba pak Wali datang naik kapal fery dan melambaikan tangannya (terlihat dari lokasi penanaman karena emang letak lokasi penanamannya di tepi laut. Beliau tidak datang kelokasi penanaman hanya mampir sebentar di pos pantau.
Disini ada sedikit guyonan lucu yang terjadi antara saya dan sahabat saya Burhan.
Burhan : “Wah enak yo Ngga dadi Walikota”
Saya : “Lah ko iso bur?”
Burhan : “ Iyo enak lah, deloken iki mau. Wonge telat gak onok sing muring. Walikota paling mau turue kawanan Ngga soale mikirno urusan kotae awake dewe. Tapi tetep ae lah apapun alesane tetep g diamuk to!?”
Saya : “Wah nek ngono aku iki kudue calon Walikota kedepan Bur!”
Burhan : “Ko isok?”
Saya : “La yo jelas to, wong aku gelek turu kawanen!!”
Burhan : “Wakakaka…”
Selama acara penanaman ini berlangsung saya tidak bisa ikut berpartisipasi karena luka yang saya punya masih basah. Teman saya Cuplis yang terkenal karena “kelecekan” bibirnya bilang ke saya untuk harus tetep turun meskipun sakit. Dia bilang tar kalo sakit dia janji mau merawt saya. Tapi… Dia bilang sakitnya harus infeksi atau tetanus!! Sahabat saya satu itu emang tidak salah menyandang mahasiswa Biologi ITS ter “nggateli”. Hehehe…
Selesai acara penanaman kami team Pecuk segera kemabali ke titik awal acara (Dermaga) untuk makan dan membersihkan diri. Dasar nasib sial berhubung kita tidak memiliki keplek panitia kita tidak bisa makan. Setelah kurang lebih 30 menit kita diantara garis hidup mati (kelaparan berat) datang lah malaikat gondrong berkulit gelap bernama mas Uut. Beliau mungkin tidak tega melihat kami yang sudah mirip orang menderita busung lapar ini sehingga membelikan kami bakso. Suwun mas… You are my Hero. Setelah kenyang saya dan Burhan segera pamit untuk menjilid proposal yang hendak kami berikan ke YAPEKA dan Sampoerna. Dasar lagi apes, penjilidan kami temukan di Semolowaru (podo ae mbalik je!!). Ketika kembali kelokasi kami disambut sahabat kami, Cuplis, dengan dengan 2 porsi bandeng lumpur (thanks bro…). Setelah kenyang dan memberikan proposal yang telah rapi kami segera pulang ke kampus.
Pengalaman hari Minggu tersebut sangat menyenangkan. Saya berharap semoga keindahan alam di Wonorejo dapat sampai lama dan dinikmati oleh anak cucu kita. Semoga Pemkot Surabaya segera merealisasikan proyek MIC di wonorejo sehingga alam Wonorejo dapat dijaga. Jika tidak sekarang, kapan lagi kita akan memulainya…
by. Angga 05
Sekilas tentang Spot Pengamatan Burung Air di areal Pertambakan Gunung Anyar Surabaya Timur
December 9, 2009REPORTASE SURVEY SPOT PENGAMATAN DI AREAL PERTAMBAKAN GUNUNG ANYAR SURABAYA TIMUR
Pengamatan di daerah Gunung Anyar hampir tidak dilaksanakan karena tidak adanya anggota peCUK yang datang. Di saat sebelum berangkat beberapa anggota peCUK yang berangkat ke Gunung Anyar mempuyai kesulitan untuk menghubungi anggota peCUK yang lainnya, tetapi akhirnya dengan beberapa anggota peCUK rencana pengamatan di Gunung Anyar akhirnya terjadi terlaksana.
Di saat perjalanan tidak ada halangan sedikitpun, tetapi sesampai di Gunung Anyar anggota peCUK mengalami kesulitan untuk mencari dimana spot yang bagus untuk dijadikan pengamatan dan lokasi pengamatan untuk lomba WBWR 2010. Karena rencana pengamatan tersebut dijadikan satu dengan agenda survey WBWR 2010 yang rencananya di adakan di Gunung Anyar Dan Bangkalan Madura. Baca Selengkapnya By KSBL PECUK ITS
Posted by pecuk
Posted by pecuk
Posted by pecuk 
