WMBD

WMBD atau Water Migratory Bird Day merupakan acara yang dilakukan secara serentak di semua penjuru dunia. Tiap kelompok pengamat burung bisa mengajukan diri untuk bergabung atau tidak untuk membuat acara WMBD ini. Di Surabaya PECUK, PEKSIA dan kelompok peduli lingkungan saling bekerja sama untuk pelaksanaan WMBD. Acara WMBD dilaksanakan di pos pantau Wonorejo hari sabtu sampai minggu, 12-13 Mei 2012. Pemilihan tempat kegiatan di pos pantau beralasan pada tempat tersebut cukup ramai saat akhir pekan dan dekat dengan titik pertenggeran burung.

Pada umumnya para kelompk pengamatan burung ini melakukan acara berupa pengamatan burung, namun di Surabaya ada sedikit perbedaan dimana selain pengamatan burung ada juga kegiatan pameran foto. Para pengunjung pun dapat bertanya jawab mengenai burung maupun diajarkan caranya mengamati burung. Tidak hanya itu, ada juga perlombaan pengamatan burung bagi mereka yang berusia 12 tahun ke bawah. Tahapannya para peserta lomba mengambar bebas burung seperti apa, sekreatif mereka dan nanti akan dinilai oleh para pengamat burung. Setelah lomba pun mereka dapat turut mencoba menggunakan binokuler maupun monokuler.

Anak-anak tersebut sangat aktif dan dapat menghasilkan karya yang menakjubkan. Ada beberapa gambar yang indah dan mirip seperti aslinya. Gambar-gambar tersebut sampai membuat kami pun binggung juga menentukan juaranya yang mana. Tanpa ada rasa malu anak-anak tersebut melihat-lihat foto, mencoba binokuler dan monokuler yang telah disediakan. Bahkan ada seorang anak yang selalu kembali ke tempat pameran foto mencari kakak pembimbingnya saat mengambar dan minta ditemani.

Selain acara perlombaan, diadakan juga kegiatan cerita dan berbagi ilmu antara anggota PECUK dan PEKSIA. Di dalam kegiatan ini dapat menjadi awal dimana kelompok pengamat burung dapat bersatu. Hal ini didasari dengan pembicaraan mengenai bangkitkan kembali sarang burung Surabaya. Sarang burung Surabaya ini akan menjadi wadah bagi para pengamat maupun kelompok pengamat burung untuk berkegiatan bersama, berkumpul maupun bertukar pengalaman.

Oleh-oleh dari Taman Hutan Raya R Soeryo

Hanya berbekal baju menempel di badan dengan dilapisi jaket + ditambah kamera pinjaman saja yang saya masukan kedalam tas punggung, tanpa berfikir panjang langsung berangkat menuju Taman Hutan Raya R Soeryo untuk mengikuti acara Ekspedisi FOBI. Karena tidak mau ketinggalan untuk mengeksplorasi satwa khususnya burung-burung yang ada dilokasi itu, membuat saya semakin bersemangat untuk segera menuju ke tempat itu, ditambah lagi acara yang sudah berjalan mulai tanggal 1 April 2012 dan saya yang baru berangkat pada tanggal 6 April 2012 Malam atau bisa disebut peserta yang telat dan tertinggal kereta yang sudah jauh.

Saat perjalanan dari pacet menuju Taman Hutan Raya R Soeryo yang terletak di Cangar, Batu. Seluruh kanan kiri jalanan hanya berlatar rimbun dan gelapnya hutan primer. Cahaya bulan dan sayup sorotan lampu dari sepeda motor malah semakin membuat merinding. Kurang lebih satu jam perjalanan di tengah jalan hutan tersebut, terlihat dari jauh cahaya lampu neon dan akhirnya sampai pada Kantor Taman Hutan Raya R Soeryo. Saat berhenti terasa dingin yang sampai ke tulang (merupakan hal baru bagi manusia yang hidup di daerah panas Surabaya), dan baru tahu bahwa suhu dilokasi tersebut 16 Celcius. Adaptasi tidak terlalu lama karena sambutan yang hangat dari teman-teman ekspedisi.

Teman-teman dari berbagai wilayah menyambut dengan hangat, sampai makan dan tidur pun saya ngikut(alias gak bondo). Suasana di ruangan tersebut seperti acara reunion keluarga yang lama tidak berkumpul, karena aroma persaudaraan yang kental menyelimuti. Sharing, ngobrol, bertukar informasi dan ilmu membuat waktu tidak terasa berjalan dengan cepat. Waktu menunjukan pukul 12.00 AM beberapa orang mengajak untuk pengamatan malam dengan membuat pancingan suara Otus lempiji, Tyto alba, Strix leptogrammica. Alhasil burung-burung tersebut hanya menghampiri dan tidak mau menampakkan dirinya dalam penatnya gelap malam dan rimbunnya tajuk pohon di atas pemandian air hangat cangar. Kata mas Heru(Mbah Rekso) yang biasanya pengamatan malam di tempat itu biasanya burung jenis Strix sp sering mandi air hangat dan memangsa ikan gabus di kolam pemandian di tempat itu. Tetapi malam itu saya tidak beruntung karena tidak dapat mengabadikan Raptor Malam tersebut dan acara dilanjutkan dengan istirahat(tidur).

Pagi ketika saya bangun ternyata ruangan sudah sepi, saya kaget karena pukul sudah menunjuk pukul 07.00. Sangat tidak terbiasa karena pukul 07.00 disana mataharinya masi seperti pukul 05.30 di Surabaya. Karena suara burung yang saling bersahutan terdengar saya langsung bergegas pengamatan pagi itu sampai lupa untuk cuci muka. Rencana pertama dan saran dari teman-teman untuk menuju jembatan kembar agar tidak ketinggalan untuk menyaksikan Spizaetus bertelsi yang sedang berjemur di atasnya. Sekali lagi saya kurang beruntung karena tidak menyaksikan burung yang dikatakan asal muasal burung Garuda. Tapi benar kata orang-orang Cangar memang Sangar, meskipun tidak melihat Spizaetus bartelsi saya sangat kagum karena disuguhi banyaknya Indigo Flycatcher yang terlihat seperti bondol di Surabaya, tapi anehnya sampai pulang saya sama sekali tidak melihat bondol. Tidak sampai pindah tempat sudah ada tarian Coracina larvata (jantan dan betina), disambut gerombolan Pericrocotus miniatus, Ixos virescens, Seicercus grammiceps, dan di perjalana kembali ke Penginapan(kantor Tahura R Soeryo) dengan ditemani suara Megalaima australis yang ada dimana-mana saya bergegas, sampai di Kantor Tahura R Soeryo untuk membeli GG inter saya lanjut menuju areal pemandian air panas Cangar.

Saat berjalan ke dalam areal pemandian masih sempat saja untuk bertemu Culicicapa ceylonensis yang sedang agresif menjaga sarangnya.  Akan tetapi  letak sarang burung tersebut yang terletah sangat tinggi dan menempel di batang pohon membuat saya tidak bisa melihat anak dari burung yang lagi parenting tersebut. Karena teringat akan photo Spizaetus bartelsi dan Aceros undulatus yang ditunjukan kepada saya, menjadi ingin segera menuju ke lokasi temuan spesies tersebut yang berada di Bukit yang bernama Gajah Mungkur tersebut. Tak lama pengamatan di lokasi pemandian saya kembali lagi menuju ke Kantor untuk mengambil motor supaya lebih cepat menuju lokasi, mengingat teman-teman yang sudah pada packing untuk pulang.

Sesampai di jalan bagian bawah bukit saya langsung menuju puncak bukit yang ternyata tidak terlalu jauh dari jalan tempat saya meletakan motor. Dua jam menunggu di atas bukit dengan terdengar suara Megalaima sp, Dendrocopos sp, dan ribuan collocalia esculenta kedua spesies yang saya tunggu tak kunjung menampakan dirinya. Tetap menunggu dengan ditemani GG inter dan segelas kopi yang saya bawa ke atas sampai waktu menunjukan pukul 11.15 siang membuat saya sedikit berkecil hati untuk kembali dengan tangan kosong. Bersiul-siul iseng sedikit supaya tidak bosan dengan menirukan lengkingan suara Spilornis cheela ternyata terdengar sahutan suara  sebanyak dua kali. Yang membuat saya kaget disaat mencari asal suara tersebur se-ekor Spilornis cheela telah berada tepat di atas saaya dengan jarak yang sangat dekat, disaat akan mengabadikan moment tersebut ternyata diafragma lensanya tidak mau membuka sempurna (#error). Tidak lama berselang muncul satu lagi Spilornis cheela yang sepertinya berkelamin betina, karena salah satu dari mereka melakukan tari-tarian dan akselerasi yang indah di udara. Sempat mengabadikan tarian yang bergerak longitudinal dengan menggoyangkan ekornya tetapi photo yang saya dapatkan over ligting semua karena matahari yang sudah tepat diatas kepala.

Karena terlalu lamanya saya berada dibukit itu sampai lupa akan waktu, yang akhirnya membuat saya di jemput dan diminta untuk segera kembali ke Kantor Tahura R Soeryo. Sampai di kantor terlihat semua orang sudah pada duduk di tepi jalan menunggu saya karena acara sudah ditutup dan kendaraan yang mengantar kembali ke daerah asalnya masing-masing sudah siap, membuat saya sangat tidak enak(sungkan) karena telah membuat menunggu. Setelah itu ada sesi photo bareng, di sesi photo bareng juga disuguhi oleh Ictinaetus malayensis dan Spilornis cheela yang sedang soaring. Tetapi semua tidak menunjukan sebuah ekspresi yang kagum karena sudah terlalu sering melihat hal tersebut selama satu minggu dan akhirnya acara diakhiri dengan salam-salaman seperti lebaran.

Sungguh merupakan pengalaman yang tak terlupakan, hangatnya kebersamaan seperti hangatnya suasana keluarga dan menakjubkannya burung yang ada di cangar membuat saya teringat kata-kata  “Cangar pancen sangar”.
Berikut beberapa species yang tidak sengaja nyantol di lensa abal-abal saya :

 

Ini ceritaku? Mana ceritamu? :)

Pengamatan di Wonorejo

7 April 2012

Cuaca cerah, jam 8

Pengamatan burung paling enak pagi hari dan sore hari. Kalau pagi hari kisaran pukul 06.00-07.30 atau sebelum matahari terbit secara penuh. Bila sore hari kisaran pukul 16.00-17.30 atau sebelum maghrib. Pada waktu-waktu tersebut burung lebih banyak terlihat. Pengamatan memang ada baiknya dikisaran waktu tersebut, karena jika lewat sudah sedikit burung yang dapat dilihat. Oleh karena beberapa macam hal, saat ingin pengamatan wonorejo Sabtu, 7 April 2012 mengalami kemunduruan. Janjian jam 6 sudah berada di wonorejo, tetapi baru memulai bergerak jam 7.50.

Pengamatan burung kali ini beranggotakan Mas Piul, Mba Anin, Mba Chaca, Mba Sidratu dan Wim. Kira-kira 50 meteran dari warung Ibu Rum, kami berhenti sejenak melakukan pengamatan di sekitar. Di kejauhan kami melihat dua burung. Diantar kami terjadi perbedaan pendapat mengenai burung jenis apa, karena dipengaruhi oleh jarak yang lumayan jauh dan posisi burung menghadap membelakangi kami maupun terbang dari satu dahan ke dahan lain, maka kami menemui kesulitan mengidentifikasi. Burung tersebut berukuran 3x nya burung gereja, punggung berwarna biru cerah, dada berwarna putih polos, paruh 2x kepala berwarna hitam. Ada yang berpendapat bahwa ini burung cekakak sungai dan burung raja udang. Kedua burung ini secara morfologi memang hampir sama. Setelah ditunggu beberapa saat akhirnya burung tersebut dalam posisi menyamping dan diamati lagi, akhirnya diketahui bahwa burung tersebut adalah burung cekakak sungai (Todirhampus cholis). Rupanya antara kepala dengan badan terpisahkan oleh kalung berwarna putih dan pada ekornya ada garis berwarna biru muda sedangkan ekornya dominan biru tua cerah.

Masih pada posisi yang sama, kami melihat adanya pergerakan cepat di pohon dekat kami. Sekilas terlihat ada sesuatu belang-belang putih lompat dari dahan ke dahan dengan gesit. Kami langsung berbagi posisi untuk mengamati. Perlahan tetapi pasti bisa mengikuti arah pergerakannya dan saat sedang hinggap di dahan dengan sigap diamati. Rupanya ada seekor burung dengan ukuran 2x burung gereja, punggung dan ekor dominan hitam dengan bintil putih. Kembali dibuat binggung jenis apa ini, karena belum mendapatkan secara lengkap morfologi yang dapat menjadi pembeda antara satu jenis dengan jenis lainnya. Tidak lama burungnya kembali berpindah dahan dan tidak terlihat tertutup dedaunan. Kami menanti dengan sabar penuh rasa penasaran untuk mengetahui jenis apa. Kesabaran kami menemui hasil dimana burung tersebut kembali terlihat. Sayang posisinya kurang strategis untuk diamati karena tertutup sebagian daun, kami berhasil melihat bagian kepalanya ada topi merah dan burung tersebut memiliki tunggik merah. Dari ciri tersebut diketahui bahwa burung kaladi ulam (Dendrocopus macei)

Saat ingin melanjutkan perjalanan kami terhenti oleh pergerakan seekor burung yang tiba-tiba terbang dari rerumputan ke dahan pohon. Lagi-lagi dedaunan menjadi penghalang kami untuk dengan bebas menikmati keindahan dan mengidentifikasi burung. Hampir sebagian tubuhnya tertutup daun, tetapi ekornya sangat terlihat jelas bergerak naik turun. Pergerakan ekor seperti ini menjadi ciri khas dari burung kipasan. Beberapa kali diamati dan berpindah posisi, akhirnya dapat didentifikasikan burung tersebut termasuk jenis burung kipasan.

Perjalanan kami lanjutkan diiringi suara burung-burung yang saling bersautan. Lebih banyak jenis burung yang terdengar suaranya. Saya tidak mencantumkan pengindetifikasian dari suara burung, karena saya belum bisa mengelompokkan burung dari suaranya.

Kami berusaha mencari spot dimana banyak terdapat burung dengan ukuran lebih besar dibanding dengan burung yang telah diamati tadi. Penelusuran terus berlanjut, tambak demi tambak terlewati dan tiba-tiba ada burung yang terbang lalu disambut satu burung lagi dari arah berlawanan. Segera kami menarik binokuler dari dalam tas dengan mata tetap mengikuti pergerakan terbang burung tersebut. Ketika sedang diamati dengan bino kedua burung tersebut hinggap di perpohonan dan tertutup daun. Kami mencoba menunggu, tetapi sayang tidak ada pergerakan dan tanda-tanda burung tersebut akan berpindah tempat. Dari pengamatan sekilat tadi kami hanya mendapatkan gambaran dari penampak terbangnya berupa ukuran 1x merpati, badan berwarna kuning dengan di pinggiran sayap terdapat warna hitam, paruh 1x kepala. Kami mengidentifikasi itu adalah burung bambangan kuning (Ixorbhicus cinensis).

Berhubung burungnya tidak muncul, maka kami pun melanjutkan perjalanan. Tidak jauh melangkah, kami melihat ada dua burung berukuran 2x burung gereja seperti sedang bermain di rerumputan. Mereka terbang rendah berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Rupanya kedua burung ini berbeda jenis, tetapi masih dalam satu spesies yaitu bondol. Burung satu berukuran 2x burung gereja, berkepala hitam, dada putih polos, punggung cokelat muda, paruh 1x kepada berwarna hitam merupakan bondol jawa ().  Kemudian burung satunya merupakan bondol dengan ciri berkepala putih, paruh 1x kepala berwarna hitam, punggung cokelat muda, dada dominan putih dengan gelombang hitam bernama burung bondol peking (Lonchura punctulata).

Selesai menyepakati bersama burung yang telah ditemukan, kami melihat ada burung gajahan terbang dan mendarat di suatu tambak. Kami mengarahkan tujuan ke arah tambak tempat pendaratan burung gajahan  tersebut. Kami berhenti sejenak di pinggiran tambak untuk beristirahat. Istirahat pun kami tetap melakukan pengamatan burung di sekitar kami. Di tambak dekat kami ada burung blekok sawah (Ardeola spesiosa), burung kuntul kecil (Egrette garzeta), burung gagang bayam timur (Himantopus leucocephalus), burung cangak merah (Ardea purpure). Burung cangak merah ini berada cukup jauh sedang bertengker di pohon. Saat beristirahat kami melihat burung kuntul dalam jumlah besar sedang bertengker maupun terbang. Lalu ada juga burung raja udang (Alledo coerulescens).

Istirahat selesai dan kami kembali berjalan menuju tambak dimana burung gajahan mendarat. Setelah sampai di tambak tersebut, kami dibuat senang bukan main karena terdapat banyak burung gajahan. Kami mengambil posisi pengamatan senyaman mungkin dan mulai mengidentifikasi. Secara sekilas hanya terlihat burung gajahan pengala (Numenius phaeopus). Setelah diamati dengan teliti rupanya ada burung gajahan kecil (), burung dara laut kaspia (Sterna caspia), burung dara laut kecil (Sterna albifons), burung biru laut ekor hitam (Limosa limosa), burung blekok sawah (Ardeola spesiosa), burung kuntul kecil (Egretta garzeta), burung kuntul kerbau (Bubulcus ibis).

Sebelum jalan pulang, Mas Piul mencoba membuat gangguan terhadap kawanan burung tersebut dengan suara-suara. Oleh karena suara dari Mas Piul, kawanan burung itu terbang dalam kelompok dan terlihat sangat indah terbang bersamaan secara berurutan (wim).